Khas Buat Yang Pulang Dari Belfast

~Khas untuk sahabat-sahabat yang baru pulang dari ISK di Belfast.

Berdepan dengan baik buruk karya orientalis
Oleh SHAHAROM TM SULAIMAN

R.H.C. Davis dalam buku A History of Medieval Europe: From Constantine to Saint Louis (1971), menulis: “Di Mesir dan Syria,hanya sekelompok minoriti Kristian saja yang masih beriman kepada ‘gereja’.

Dan di Afrika Utara, kampung halaman pendeta St.Augustine, gereja Kristian telah punah sama sekali. Kejayaan Islam di wilayah tersebut, tidak dibantu oleh mana-mana pihak atau tindakan kekerasan dibandingkan dengan inkuisisi (penaklukan) Sepanyol, dan ia dapat disejajarkan dengan kemenangan bangsa Arab.” Suatu kenyataan dalam paksi sejarah yang kontra dengan apa yang diungkapkan oleh Pope Benedict XVI yang mengatakan Islam disebar melalui keganasan dan perang jihad, dan paling biadab dengan memetik kata-kata Raja Byzantine, Manuel 11 Palaeologus menyifatkan nabi terakhir sebagai nabi paling jahat dan tidak berperikemanusiaan. Dikotomi Islam -Barat yang memang sudah keruh semakin diparahkan dengan kenyataan tersebut.

Menoleh kepada sejarah, ketika Islam berada di puncak peradabannya yang kreatif, pengaruhnya ke atas bangsa lain tidak ada taranya dalam sejarah peradaban manusia. Menurut orientalis tersohor, Gustave Le Bon dalam The World of Islamic Civilization (1974), “Pengaruh Islam tidak hanya terbatas di Asia-Afrika, malah ‘jantung’ Eropah ditembusnya. Perkenalan dengan peradaban Islamlah sebenarnya yang membawa Eropah menjadi dunia beradab.”

Menurut Gustave lagi: “Pada saat-saat Islam di Sepanyol sedang berada di puncak kecemerlangannya, pusat- pusat intelektual di Barat hanyalah berupa benteng-benteng perkasa yang dihuni oleh bangsawan yang semi-barbarik yang merasa bangga atas ketidakmampuannya membaca.” Akan tetapi interaksi Islam dan Barat tidak semata-mata interaksi intelektual tetapi juga interaksi senjata dan perdagangan.

Perang Salib yang berlaku sekitar 200 tahun adalah salah satu interaksi senjata yang sampai kini menanggung beban psikologi mendalam yang tidak dapat didiamkan di sudut hati oleh seorang pemimpin Kristian seperti Pope Benedict XVI. Gaung sejarah dari macam-macam saling hubungan ini terasa sampai hari ini, saat dunia Islam menghadapi percaturan terorisme yang dilambakkan Barat terhadap Islam.

Orientalisme sebagai satu kajian akademik yang dikembangkan di Barat oleh para orientalisnya tentang Timur dan khususnya Islam muncul ke permukaan bertaut rapat dengan latar belakang psiko-sejarah.

Islam pada abad-abad lampau dicurigai, ditakuti, tetapi secara diam-diam ia dicemburui dan dikagumi. Iklim batiniah yang hampir mirip juga dihidapi oleh umat Islam setelah mereka menjadi umat yang kalah sekitar empat abad yang lalu. Kajian orientalis berkembang subur dengan berbagai tujuan buruk yang tentu berdiri di atas jubah kesarjanaan tanpa menafikan sumbangan positif yang diberikan kepada kajian keislaman.

Majoriti mutlak manusia Barat sampai detik ini belum mengenali Islam walaupun ribuan kajian dilakukan oleh para orientalisnya, namun Islam tetap dilihat sebagai paksi kekerasan dan terorisme.

Bila ‘oknum-oknum’ berunsur Islam terlibat dalam terorisme atau kekerasan, semuanya itu harus dilihat dan dibaca dalam konteks keberadaan mereka yang sudah terlalu lama dizalimi dan diperlakukan sebagai ‘sub-human’. Puncaknya adalah penindasan terhadap rakyat Palestin oleh Israel yang didukung oleh kuasa Barat.

Beberapa tokoh orientalis seperti C. Snouck Hurgronje, Theodor Noldeke, Gustave Von Grunebaum dan lain-lainnya di samping melakukan kajian-kajian bermutu, juga bertindak sebagai penasihat dan penerus bicara pihak kolonialis Barat demi mengekalkan imperialisme, suatu upaya yang masih diteruskan sehingga kini.

Begitu besarnya perhatian Barat terhadap Timur dan Islam, menurut Edward Said dalam Orientalism (1978), antara tahun 1800 hingga 1950 saja tidak kurang 60,000 buku telah ditulis oleh para orientalis Barat tentang Islam dan Timur Dekat (the Near East). Hal ini jelas dapat dilihat dalam buku Enzaiklopedia Tokoh Orientalis yang ditulis oleh Abdur Rahman Badawi yang merupakan terjemahan dari karya berbahasa Arab, Mawsu‘ah al-Mustasyriqin yang menyenaraikan 205 para orientalis beserta karya-karya yang dihasilkan serta riwayat hidup mereka.

Bagaimanapun, buku ini tidak memasukkan orientalis terkini yang masih aktif pada abad ke-21 ini seperti Bernard Lewis, James Piscatorri, Oliver Roy.

Tidak dinafikan bahawa para orientalis memiliki dua sisi yang negatif dan positif. Dengan memahami dan mempelajari tokoh-tokoh di dalam buku ini, pembaca akan sampai pada suatu kesimpulan yang jelas yang dapat membezakan antara orientalis yang ‘nakal’, licik dan berbahaya dengan orientalis yang jujur dan objektif dalam meneliti dunia Islam dan Timur.

Memang orientalis yang bias sangat merugikan Islam, sementara yang jujur dan objektif memberi sumbangan berharga pada kajian-kajian tentang Islam. Bahkan pada sisi-sisi tertentu, harus diakui kajian-kajian tersebut sangat bernilai dan menyediakan data-data yang tepat dan sahih serta dapat dimanfaatkan demi kepentingan Islam itu sendiri. Suka atau tidak, keseriusan mereka dalam melakukan penelitian masalah keislaman dan ketimuran harus diakui secara profesional.

Kajian yang dilakukan orientalis tentang Islam khususnya, berkisar berbagai bidang seperti kajian al-Quran, hadis, usul fiqh, teologi, falsafah, bahasa, sastera, politik dan hal-hal kemasyarakatan. Terlepas daripada tujuan awal misi yang mereka bawa dalam penelitiannya, yang pasti mereka memiliki keseriusan yang tinggi. Hal ini terlihat daripada penguasaan mereka ke atas bahasa-bahasa Timur seperti Ibrani, Parsi, Arab, Suryani di samping bahasa-bahasa Eropah. Kemampuan berbahasa tersebut merupakan modal dasar yang paling penting untuk menjalankan penelitian atau penyelidikan yang bermutu.

Persoalan yang sering timbul kajian orientalis terhadap Timur dan Islam tidak diimbangi dengan kajian para oksidentalis (orang Timur yang mengkaji Barat) terhadap Barat dan warisan peradabannya. Karya-karya Louis Massignon, Hamilton Gibb, Wilfred Cantwell Smith,William Montgomerry Watt, Marshall G.S. Hodgson, adalah di antara karya-karya orientalis yang masih berwibawa dan dirujuk.

Akhirnya cara terbaik dalam menghadapi karya-karya orientalis ini ialah tiru kesungguhan mereka dalam menghasilkan karya- karya yang bermutu lagi kreatif, tetapi kembangkan sikap ekstra kritis terhadap tafsiran mereka mengenai doktrin Islam. Sikap yang hanya mencurigai mereka adalah bentuk lain dari ketidakmampuan intelektual.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: