Kisah Ashabul Ukhdud

Kisah ini sangat penting untuk memberikan pelajaran pelajaran berharga tentang makna keikhlasan sekaligus juga tentang istiqomah dan iltizam seorang hamba ketika dia memilih untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tempat untuk menyandarkan ke’tawakal’an sang hamba.

Tawakal dan berserahnya pemuda itu kepada Allah SWT menyebabkan bukan saja dia seorang, malah keseluruhan rakyat mendapat hidayah dan beriman kepada Allah SWT. Begitu mulianya kisah ini sehingga Allah SWT berkehendak mengabadikannya dalam Al-Quran di surah Al-Buruj (Gugusan Bintang) dalam juz-amma:

[1] Demi langit yang mempunyai tempat-tempat peredaran bintang-bintang;

[2] Dan hari (pembalasan) yang dijanjikan;

[3] Dan makhluk-makhluk yang hadir menyaksikan hari itu, serta segala keadaan yang disaksikan;

[4] Celakalah kaum yang menggali parit,

[5] (Parit) api yang penuh dengan bahan bakaran,

[6] (Mereka dilaknat) ketika mereka duduk di kelilingnya,

[7] Sambil mereka melihat apa yang mereka lakukan kepada orang-orang yang beriman.

[8] Dan mereka tidak marah dan menyeksakan orang-orang yang beriman itu melainkan kerana orang-orang itu beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Terpuji!

[9] Tuhan yang menguasai segala alam langit dan bumi dan (ingatlah), Allah sentiasa menyaksikan tiap-tiap sesuatu.

[10] Sesungguhnya orang-orang yang menimpakan bencana untuk memesongkan orang-orang lelaki yang beriman dan orang-orang perempuan yang beriman, kemudian mereka tidak bertaubat, maka mereka akan beroleh azab Neraka Jahanam (kerana perbuatan buruk itu) dan mereka akan beroleh lagi azab api yang kuat membakar (kerana mereka tidak bertaubat).

[11] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka akan beroleh Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; yang demikian itu ialah kemenangan yang besar.

[12] Sesungguhnya azab Tuhanmu (terhadap orang-orang yang kufur ingkar) amatlah berat.

Dan kemudian diterangkan dengan jelas oleh Nabi kita Muhammad SAW dalam hadits beliau seperti berikut ;

(Di dalam sahih Muslim, Kitab az-Zuhud wa ar-Raqaa’iq, hadith #7148)

Shuhaib bin Sinaan Arrmmi ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir,. Kemudian  ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: “Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, kerana itu kirim kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir”.

Maka raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir. Di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama, maka pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta untuk mendengarkan pengajiannya sehingga ia tertarik dengan ajaran pendeta itu. Namun, jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dia akan dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dia dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta.

Maka diajar oleh pendeta jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata,,“Aku ditahan oleh ibuku”.

Dan bila terlambat kembali ke rumah, katakan, ” Aku ditahan oleh ahli sihir”.

Maka setelah berjalan beberapa lama, tiba-tiba pada suatu hari ketika ia akan (hendak) pergi, tiba-tiba di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang-orang tidak berani jalan di tempat itu. Maka pemuda itu berkata, “Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran pendeta atau ajaran ahli sihir”

Lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa, “Ya Allah jika ajaran pendeta itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu-lalang di tempat ini”.

Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Dan orang-orang gembira kerana telah dapat lalu di jalan itu.

Maka ia langsung memberitakan kejadian itu kepada Rahib (pendeta), maka berkatalah Rahib itu kepadanya : “Kamu kini telah afdhat (lebih baik) daripadaku, dan anda akan diuji, maka jika diuji jangan sampai menyebut namaku”.

Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan pelbagai jenis penyakit yang berat-berat pada semua orang.

Ada seorang pembesar dalam majlis raja dan dia telah buta karena sakit mata,. Ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan pelbagai jenis penyakit, maka ia pun pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: “Sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang anda suka”.

Jawab pemuda itu: “Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun, sedang yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mahu beriman (percaya) kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu”.

Maka dia terus beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda itu. Ketika itu juga ia sembuh dengan izin Allah s.w.t. Kemudian ia kembali ke majlis raja sebagaimana biasanya, dan ditanya oleh raja “Hai Fulan siapakah yang menyembuhkan matamu”

JawabnyaRabbi (Tuhanku)”.

Raja bertanya: “Aku?”.

Raja bertanya demikian kerana merasa dirinya sebagai Tuhan. Jawabnya “Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu yaitu Allah“.

Ditanya oleh Raja “Apakah anda mempunyai Tuhan selain Aku?”

Jawabnya “Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu adalah Allah.

Maka diseksa oleh raja seberat-berat seksaan sehingga dia terpaksa memberitahu raja bahawa pemuda itulah yang mendoakannya untuk sembuh.

Maka segera dipanggil pemuda itu lalu berkata “Hai anak sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan pelbagai macam penyakit”

Jawab pemuda itu “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, hanya semata-mata Allah azza wa jalla“.

Raja itu pun bertanya “Adakah aku?”

“Tidak” jawab permuda itu.

Maka tanya raja itu “Adakah engkau ada tuhan lain selain aku?”

Jawab pemuda “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu hanya Allah“.

Maka pemuda itu ditangkap dan diseksa seberat-beratnya sehingga dia terpaksa memberitahu siapa Rahib yang mengajarnya. Maka Rahib pun dipanggil dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya. Namun, Rahib tetap bertahan dan tidak mahu beralih agama, maka diletakkan gergaji di atas kepalanya dan digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua badannya.

Kemudian pemuda itu kembali diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama tauhid), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja. Maka raja memerintahkan supaya dibawa ke puncak gunung. Di sana juga telah ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja,  jika tetap menolak dia akan dilempar dari atas gunung itu. Maka ketika telah sampai di atas gunung, ditawarkan lagi kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa Allahumma ikfinihim bimaa syi’ta (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini dengan aku sehendak-Mu)”.

Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga para pengawal berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya. Maka segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya, “Manakah orang-orang yang membawamu?”.

JawabnyaAllah yang menyelesaikan urusan mereka”.

Lalu pemuda itu ditangkap lagi dan kali ini dibawa ke laut dengan menaiki perahu, setelah sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mahu mengubah pendirian agama. Jika tidak, maka lemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa Allahumma ikfinihim bimaa syi’ta

Maka tenggelamlah orang yang membawanya semuanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Dan ketika ditanya oleh raja, “Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?”

Jawabnya, Allah yang menyelesaikan mereka”.

Kemudian pemuda itu berkata kepada raja “Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku”

Raja bertanya, “Apakah perintahmu?”

Jawab pemuda, “Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu kau ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca, Bismillahi Rabbil ghulaam (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), kemudian anda lepaskan anak panah itu, maka dengan itu anda dapat membunuhku”.

Maka semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan langsung mati, maka semua orang yang hadir berkata, Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)”.

Sesudah itu ada orang memberitahu kepada raja bahwa semua rakyat telah beriman kepada Tuhan pemuda itu, bagaimanakah usaha raja untuk menghadapi rakyat yang banyak ini? Maka raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya tentang agamanya,. Jika ia tetap setia pada kami biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkanlah ia ke dalam parit api itu.

Maka adanya orang berduyun-duyun (berbaris-baris) dorong mendorong yang masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang mengendong (membawa) bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menuruti mereka berganti agama kerana sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang,Sabarlah hai ibuku kerana kau sedang mempertahankan kebenaran”.

Akhirnya mereka berdua terjun kedalam parit api yang menyala dan membakar.

(H.R. Ahmad, Muslim dan Annasa’i)

Berkata Ibnu Abbas kisah ini terjadi 70 tahun sebelum Nabi saw.


Comments
One Response to “Kisah Ashabul Ukhdud”
  1. hamba allah says:

    hadis ghulam :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: